SEJARAH DESA PANDEYAN KECAMATAN GROGOL
Pandeyan beretimologi pandhe dan panambang " an". Panambang itu akhiran. Salah satu makna panambang an adalah tempat. Pandhe berarti " tukang gawe dandanan wêsi". Berakhir - an. Bermakna tempatnya pandhe adapun ada makna lain Pandeyan juga bisa berasal dari kata pandewekan yang artinya tempat pengasingan , tempat menepi ataupun tempat bertapa.
Desa Pandeyan secara geografis terletak di wilayah kecamatan Grogol dengan luas sekitar 371,70 Hektar yang berbatasan dengan Desa Pranan Kecamatan Polokarto di sebelah utara, di sebelah timur berbatasan dengan Desa Bugel Polokarto dan Desa Gentan Bendosari di sebelah selatan berbatasan dengan Desa Sidorejo Bendosari dan di sebelah barat berbatasan dengan Desa Bulakrejo Sukoharjo dan Desa Telukan Kecamatan Grogol
Secara astronomis Desa pandeyan Kecamatan Grogol wilayahnya di pisahkan oleh sungai yang terkenal dengan kali samin yang menjadikan Desa pandeyan menjadi dua wilayah ada wilayah etan kali dan kulon kali ( timur sungai dan barat sungai )
Desa Pandeyan kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo terdapat 13 Padukuhan yang terbagi menjadi 20 RT dan 4 RW. Dan 4 wilayah kebayanan. secara singkat ulasaan sejarah singkat wilayah / dukuh dukuh yang ada di Desa Pandeyan kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo akan kami ulas
Yang pertama Dukuh GUNTUR lekat dengan etomologi sejarah berasal dari seorang tokoh abdi dalem keraton Surakarta yang Bernama Kyai Guntur bumi yang pernah singgah di daerah hulu Desa Pandeyan hal ini diperkuat dengan adanya makam kuno yang diyakini oleh oleh warga sekitar sebagai cikal bakal atau orang pertama yang pernah singgah di daerah tersebut.
Dukuh berikutnya yang cukup rumit toponiminya adalah SAMIN Di Bausastra jawa ada kata samin. Berarti "lênga sok dianggo nyampuri sêga (pangane wong Arab". Tak sesuai dengan toponimi tempat di Surakarta Samin bisa berasal dari sami. Berarti padha atau sama. Orang jawa mengartikan padha lebih rigid. Berarti "trêp kaanane". Trep itu cocok banget. Samin , dalam peradaban nasional, lebih terkenal sebagai sub suku jawa yang mendiami wilayah di Blora. Suku yang memandang semua manusia adalah sama. Tanpa ada perbedaan kelas. Samin juga menjadi nama sungai. Melintasi desa pandeyan pula. Sungai samin bermakna sungai yang cocok banget keadaannya. Samin , bisa pula dari kata semi. Berarti "trubus, tuwuh godhonge".
Dukuh selanjutnya Dukuh TOPATEN berasal dari kata Toh pati artinya Dalam bahasa Jawa, "toh pati" bisa diartikan sebagai "sampai mati" atau "sampai ajal". "Toh" sendiri berarti "sampai" atau "hingga", sedangkan "pati" berarti "mati" atau "kematian". Jadi, "toh pati" secara harfiah berarti sampai pada titik kematian.
Dalam konteks primbon Jawa, "pati" juga bisa memiliki makna yang lebih luas, yaitu suatu fase kritis atau titik balik dalam kehidupan yang menentukan arah nasib seseorang. Namun, dalam konteks pertanyaan ini, yang lebih relevan adalah arti harfiahnya, yaitu "sampai mati" atau "sampai ajal".
Dukuh selanjutnya yaitu dukuh NGLESES, Ngleses" dalam bahasa Jawa merujuk pada keadaan "tertidur lelap" atau "tertidur nyenyak". Kata ini juga bisa digunakan untuk menggambarkan kondisi seseorang yang sedang terlelap dalam tidur yang dalam. Di Dukuh ini juga ditemukan adanya makam kuno yang Bernama makam kaputren yang menurut warga sekitar merupakan makam salah satu putri dari keraton Surakarta yang pernah singgah di wilahyah itu dan sampai sekarang masih banyak orang yang berziarah ke makam tersebut. Di dukuh ini juga berkembang mitos bahwa kalua ada orang yang masuk ke wilayah itu dengan maksud jahat dan mempunyai pemikiran yang tidak baik maka orang tersebut akan di bingungkan jalanya.
Dukuh selanjutnya yaitu DUKUH, Dukuh mempunyai pengertian suatu wilahyah / daerah kecil yang di di huni oleh komunitas dengan seorang pemimpin. Di dukuh ini terkenal dengan seorang pejuang pembela tanah air yang gagah berani yang berjuang melawan penjajah yang Bernama Pak Sarkowi.
Dukuh Selanjutnya yaitu Dukuh BUGEL dukuh ini berasal dari akronim “ Mlebu setugel “ hal ini di karenakan letak geografis dukuh ini berbatasan langsung dengan Desa Bugel Kecamatan Polokarto yang dipisakan oleh sungai kecil yang sebagian orang menyebutnya dengan kali mati.
Dukuh selanjutnya yaitu MRANGGEN dukuh ini merupakan toponimi profesi orang jawa. Mranggen berakar dari kata mranggi. Berarti "tukang gawe wrangka ( keris ) ". Mendapat akhiran - an. Menjadi mrangginan. Dilafalkan mranggen dikarenakan Orang jawa itu , lidahnya pendek. Tak suka dengan kata yang bikin lidah muntir. Musabab itulah, ada tembung plutan di Paramasastra jawa.
Selanjutnya adakah Dukuh POPONGAN .Di kamus toponimi popongan berarti pohon /poh- pohan. Poh pohan adalaha suatu tanaman yang daunnya bisa di konsumsi dan terkenal baik untuk Kesehatan dikarenakan daun ini mengandung Antioksidan Flavonoid dan tanin dalam daun pohpohan membantu menangkal radikal bebas, mengurangi risiko penyakit kronis seperti penyakit jantung dan kanker.
Popongan bisa pula berakar dari kata Pog – Pokan . Mempunyai arti " mentok, êntèk" atau habis .Pog- pogan bermakna entek- entekan. Hal ini dikarenakan secara geografis Dukuh Popongan terletak di pengujung Desa pandeyan yang berbatasan dengan kali samin.
Selanjunya kita bahas Wilayah Desa Pandeyan yang berada di sebelah barat sungai ( Kulon Kali )
Dukuh TRAJUKUNING, Trajukuning berasal dari kata Traju dan Kuning. Traju" dalam bahasa Jawa artinya adalah timbangan atau neraca. Kata ini juga bisa merujuk pada alat untuk menimbang yang berbentuk seperti pikulan. Selain itu, dalam konteks tertentu, "nraju" (bentuk kata kerja dari "traju") bisa bermakna "menimbang" atau bahkan "bersikap adil" Kuning berate warna kuning ini menggambarkan logam kuningan ataupun perhiasan emas. Trajukuning sefrekuensi dengan kata trajumas. Dimana di era kerajaan ada sebuah tempat di kraton mataraman yang Bernama trajumas, yang berfungsi untuk tempat pengadilan.
Dukuh TUREN kata "Turen" dalam bahasa Jawa tidak memiliki arti tunggal atau kata yang umum digunakan. Namun, ada beberapa kemungkinan yang bisa merujuk pada kata tersebut, tergantung konteksnya, turen juga bisa berasal dari kata Turi yang secara etomologi berarti pohon turi pohon yang berdaun majemuk yang bisa di manfaatkan sebagai pakan ternak dan obat herbal untuk radang sedi atau kesleo
Dukuh Selanjutnya PLOSOKUNING, Ploso kuning secara etimologi mengarah kepada pohon palasa dimana pohon palasa mempunyai bunga berwarna kuning dan ada juga berwarna kuning kemerah – merahan/orange. Pohon Kalasa Getahnya yang berwarna kemerahan akan mengeras di udara menjadi gom, yang dikenal sebagai ‘kino Benggala’ atau ‘gom Butea’. Gom ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pewarna, bahan penyamak, serta sebagai bahan pengelat (astringensia) dalam pengobatan tradisional, misalnya sebagai obat diare. Dari cerita yang berkembang di wilayah tersebut plosokuning dulunya berupa hamparan tanah tegalan yang minim sumber air hal ini senada dengan endemic Pohon palasa dapat tumbuh didaerah kering yang minim dari sumber air. Dan dari sumber lain dari cerita rakyat yang beredar Plosokuning mempunyai cikal bakal / asal usul dari sebuah tempat kediaman kyai PLOSO yang berwujudkan ular.
Dukuh selanjutnya DANIREJO danirejo berasal dari kata Dani dan rejo. Dani sering dipakai nama orang. Berasal bahasa Sansekerta ataupun latin. Dan untuk menggambarkan tempat serta perspektif jawa Dani berasal dari tembung plutan dari daning.Di Bausastra jawa berarti "dening”, “dene” dene (dianggo sabawa nelakake gumun ).".Daning menunjukkan sesuatu proses yang luar biasa. Dianggap sulit tetapi bisa tercapai. Danirejo. Bermakna tempat yang dulunya sepi sunyi akhirnya bisa menjadi ramai nan tentram.
Selanjutnya ada Dukuh Pandeyan Permai dan Turen Asri Dukuh ini merupakan wilayah pemekaran atau wilayah baru yang berbentuk perumahan / komplek perumahan yang mayoritas merupakan warga pendatang dari luar desa pandeyan yang berdiri sejak mulai tahun 1990 an
Demikian sedikit sejarah singkat tentang Desa Pandeyan Kecamatan Grogol Kabupaten Sukoharjo. Desa yang secara kewilayahan masuk dalam wilayah perkotaan Solo Baru / Kecamatan Grogol tetapi secara Astronomis dan geografis merupakan wilayah desa yang identik dengan ketenangan, kedamaian, dan keindahan alam yang asri. Jauh dari hiruk pikuk perkotaan, desa menawarkan udara segar, pemandangan hijau, hamparan lahan pertanian yang luas dan suara-suara alam yang menenangkan. dengan keramahan masyarakatnya, kehidupan yang sederhana, dan kentalnya nilai-nilai gotong royong.
PANJAWI “ PANDEYAN JAYA WIBAWA “